Menabung Silase Saat Musim Hujan

Menabung Silase saat Musim Hujan

Kamis, 08 Oktober 2009

Pada musim hujan, produk hijauan pakan ternak sangat berlimpah. Untuk mengantisipasi datangnya musim kemarau, para peternak harus pandai-pandai “menabung” pakan ternak. Pembuatan silase menjadi solusi ketersediaan pakan sepanjang musim.

Wahyu Hidayatullah, peternak sapi asal Malang, Jawa Timur, kelabakan mencari pakan ternak meski musim hujan mulai datang.

Di lahan kering tempat pria 30 tahun itu tinggal, produk pakan ternak hijau masih menjadi barang langka. Rumput-rumput di sekitar lereng Gunung Kawi, Malang, yang mulai tumbuh belum maksimal dapat ditebas untuk dijadikan pakan sapi.

Limbah produk pertanian seperti jerami, jagung, dan padi juga masih sulit diperoleh lantaran memang belum ada petani yang menanamnya.

Menurut Wahyu, untuk menghindari kelangkaan hijauan pakan ternak sejak musim kemarau hingga awal musim hujan, para peternak musiman di daerahnya menjual sapi ternak mereka pada awal musim kemarau.

Setelah itu mereka beralih kerja menjadi buruh bangunan. “Sementara itu para peternak yang masih memelihara sapi pada musim paceklik harus mendatangkan hijauan pakan ternak dari luar daerah,” ujar pria yang baru merintis usaha peternakan dengan memelihara delapan ekor sapi potong itu.

Agar para peternak yang tinggal di daerah lahan kering tidak kebingunan mencari hijauan pakan ternak, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memunyai cara “menabung” pada musim hujan.

Cara “menabung” itu dengan mengawetkan hijauan pakan ternak menggunakan teknologi fermentasi anaerob (tanpa oksigen). Teknologi itu pada prinsipnya memberi kesempatan bakteri asam laktat untuk memproduksi asam laktat organik atau lebih dikenal dengan silase.

Menurut Dr Yantyati Widyastuti, peneliti silase dari Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, pembuatan silase bertujuan untuk mengatasi masalah kesulitan penyediaan hijauan pakan ternak pada musim kemarau.

Dengan kata lain, pembuatan silase dapat digunakan untuk menabung kelebihan hijauan pakan ternak dari perkebunan maupun limbah pertanian saat musim hujan.

Alhasil, tabungan pakan itu dapat digunakan setiap saat dalam kurun waktu satu tahun tanpa terpengaruh musim panen tanaman.

Bahan baku silase sejatinya bisa diambil dari semua jenis tanaman yang menjadi sumber makanan ternak.

Pakan akan lebih berkualitas jika tanaman yang dipilih sebagai bahan baku memiliki gizi tinggi, seperti rumput gajah (Pennisctum purpureum).

Rumput gajah kerap sengaja ditanam para petani untuk memenuhi ketersediaan pakan ternak. Para petani sangat memperhatikan pemilihan bibit hingga cara pemanenan keluarga rumput-rumputan itu.

Rumput gajah yang berkualitas baik untuk dijadikan silase ialah tanaman yang berumur 50-60 hari pada masa panen pertama setelah tanam. Apabila panen terlalu awal, tunas yang tumbuh tidak sebaik yang dipanen lebih dari usia dua bulan.

Sebaliknya, jika pemotongan rumput gajah terlalu tua, akan memengaruhi kandungan nutrisinya dan menyebabkan batang terlalu keras. Selanjutnya pada masa pemanenan kedua, umur rumput gajah sekitar 40 hari.

“Saat pemanenan perlu juga diperhatikan waktu pemotongan yang sangat disarankan pada siang hari.

Sebab saat itu kadar glukosa mencapai titik maksimal sehingga dalam proses pembuatan silase akan lebih mudah dan cepat,” ujar Yantyati yang juga menjabat sebagai Ketua Koodinator Kelompok Mikrobiologi LIPI.

Proses Pembuatan

Proses pembuatan silase diawali dengan perajangan atau pemotongan rumput gajah dalam ukuran tiga sampai lima sentimeter.

Rumput gajah yang dirajang kecil-kecil itu dimaksudkan agar partikel rumput dan bakteri mudah menyatu. Setelah itu, rumput gajah dilayukan dengan cara dijemur atau diangin-anginkan agar kadar airnya tidak terlalu banyak. Alasannya, salah satu faktor yang memengaruhi fermentasi adalah kadar air hijauan.

Cara mengetahui kadar air yang tepat salah satunya adalah diremas dengan tangan.

Setelah rumput tidak lagi meneteskan air saat diremas, dilakukan proses berikutnya, yaitu mencampurkan bahan aditif (tambahan), yaitu inokulum dari bakteri asam laktat dan sumber karbohidrat berupa kulit ari padi yang sudah dihaluskan (dedak). Inokulum berfungsi meyakinkan adanya fermentasi.

Dedak berfungsi sebagai penghasil karbohidrat untuk menghasilkan asam laktat organik yang bisa menurunkan tingkat keasaman (pH) silase.

Bisa juga ditambahkan konsentrat untuk membuat pakan komplet sehingga kandungan gizi silase akan meningkat.

Konsentrat adalah bahan makanan seperti tepung ikan yang konsentrasi gizinya tinggi tetapi kandungan serat kasarnya relatif rendah dan mudah dicerna.

Proses selanjutnya, semua bahan baku silase dimasukkan ke wadah, semisal drum, plastik, atau tempat yang memungkinkan proses fermentasi kedap udara.

Tim peneliti LIPI menggunakan drum yang dapat menampung semua bahan baku (rumput gajah) dengan berat sekitar 80 kilogram. Populasi inokulum yang digunakan sebanyak 106 CFU/gram/rumput. Sedangkan dedak yang digunakan sebanyak lima persen dari berat rumput gajah yang digunakan.

Yantyati mengatakan saat memasukkan semua bahan baku silase ke suatu wadah, sebaiknya sembari ditekan-tekan sampai padat agar tidak ada lagi udara.

Hal itu penting sebab sisa udara dalam wadah bisa menimbulkan jamur yang dapat menghasilkan asam butirat sehingga bahan baku silase membusuk. Namun apabila di dalam wadah dipastikan tidak ada rongga udara, proses fermentasi pun akan berlangsung sempurna dalam jangka waktu minimal 21 hari.

Untuk memastikan terjadinya proses fermentasi sempurna, dapat diukur pH-nya. Dalam proses fermentasi tersebut, pH rumput gajah dari yang rata-rata lima sampai enam akan turun menjadi tiga hingga empat.

Ciri-ciri lain proses fermentasi berjalan sempurna adalah silase berbau harum, bewarna hijau kecokelatan, tekstur lembut, tidak berjamur, suhu ketika dibuka dalam wadah tidak panas (kurang dari 30 derajat celcius), dan disukai ternak.

Yatyanti menerangkan apabila semua proses pembuatan silase, mulai dari pemilihan bahan baku hingga proses fermentasi, dilakukan dengan benar, nilai gizi dari rumput gajah dapat dipertahankan.

Namun kerap kali pembuatan silase itu menurunkan nilai gizi rumput gajah. “Berapa persentase penurunan nilai gizi rumput gajah untuk sementara ini belum terukur, namun tidak akan turun drastis,” ujar peneliti yang menyandang gelar doktor bidang nutrisi pakan ternak di Tokyo University of Agriculture, Jepang, itu.

Dengan metode pembuatan silase tersebut, secara teori, hijauan pakan ternak juga dapat bertahan hingga tiga tahun.

Namun, selama ini, silase digunakan untuk persediaan pakan ternak selama satu tahun. Satu kilogram silase dibanderol harga 500 rupiah, sedangkan satu kilogram rumput gajah segar seharga 100 rupiah.

Meskipun harga silase lebih mahal, penggunaannya tidak terbatas musim. Pada musim kemarau, ketersediaan pakan pun cukup sehingga ternak tidak akan kesulitan mendapatkan pakan. Alhasil, berat badan ternak pun tidak akan menurun.

Hasil penelitian silase itu telah diaplikasikan di sejumlah daerah di Pulau Jawa, seperti Magelang, Kertosono, Tasikmalaya, dan Nganjuk. Rencananya silase segera digunakan untuk mendukung program bumi sejuta sapi oleh Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Barat.
awm/L-2

  • Sumber :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s