Berbagai Penyebab Harga Cabe Meningkat

Senyum Marsudi bakal terus merekah. Harga cabai yang diperkirakan anjlok hingga Rp5.000 ternyata bergeming di angka Rp13.000/kg. Pekebun di Muntilan, Magelang, Jawa Tengah, itu rata-rata memanen 3-4 ton cabai keriting/2 hari. Artinya, Rp39-juta-Rp52-juta mengalir ke kantongnya setiap 2 hari.

Volume panen itu diperoleh dari 14 ha lahan di Kecamatan Dukun, Sawangan, dan Mungkid. Semula Marsudi memprediksi panen kali ini hanya cukup untuk mengembalikan biaya produksi yang mencapai Rp5.000/kg. Berdasarkan pengalaman, pada April dan Mei biasanya harga cabai terjun bebas. Namun, kali ini ia mendapat berkah. Pria kelahiran 5 Juli 1951 itu mengutip keuntungan hingga Rp8.000/kg. Total laba yang diraih mencapai Rp24-juta-Rp32-juta setiap 2 hari.

Selain mendulang uang dari kebun sendiri, Marsudi juga menampung hasil panen dari para pekebun mitra. Maklum, permintaan yang mengalir kepadanya mencapai 4-5 ton/hari. Sedangkan yang terpenuhi hanya 3-4 ton/2 hari. Ayah 5 anak itu rata-rata menampung 2,5-3 ton cabai keriting/hari. Harga beli dari para pekebun Rp11.500/kg. Setelah ditambah biaya angkut dan pengemasan, ia hanya mengutip laba Rp200-250/kg. Pendapatan tambahan yang diperoleh Marsudi Rp500.000-Rp750.000/hari.

Pendapatan sejumlah itu mungkin tak seberapa dibandingkan dengan keuntungan dari kebun sendiri. ‘Ya sambil bagi-bagi rezeki dengan pekebun lain,’ ujarnya. Harga cabai keriting yang menjulang memang tak hanya dinikmati Marsudi. Dengan harga beli Rp11.500/kg, para pekebun mitra pun masih mendapatkan untung Rp6.500/kg.

Berkah

Yang juga menangguk berkah dari tingginya harga cabai adalah Siswoyo. Pekebun di Kecamatan Dukun, Magelang, itu menjual rata-rata 13 ton cabai keriting/hari. Pasokan cabai berasal dari lahan 200 hektar yang tersebar di Kecamatan Dukun, Pakis, Sawangan, dan Wonolelo. Pasokan sebanyak itu untuk memenuhi permintaan 13 pengepul. Dengan harga jual Rp11.500/kg, omzet pria 52 tahun itu Rp149,5-juta/hari. Setelah dikurangi biaya produksi Rp5.000/kg, total keuntungan bersih Rp84,5-juta/hari.

Harga cabai keriting pada akhir Mei hingga awal Juni 2008 yang menyentuh angka Rp11.500/kg benar-benar menjadi berkah bagi para pekebun. Meski sebetulnya harga itu terendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya pada 2008. Pengalaman Siswoyo, harga pada Januari 2008 mencapai Rp12.000/kg, Februari Rp14.000-Rp15.000, Maret Rp14.000, dan April Rp20.000.

Harga itu jauh lebih tinggi ketimbang harga pada bulan yang sama pada 2007. Berdasarkan data Direktorat Budidaya Tanaman Sayuran dan Biofarmaka, Departemen Pertanian, harga rata-rata cabai keriting di Pasar Induk Kramatjati, Jakarta, pada April dan Mei biasanya anjlok. Pada April 2007 harga rata-rata cabai keriting hanya Rp5.783/kg dan Mei Rp5.829. Pada Juni harga kembali naik menjadi Rp8.257/kg. Pada bulan-bulan sebelumnya harga berkisar Rp12.000-Rp14.000/kg.

Mengapa harga menjulang pada 2008? Menurut Dr Muchjidin Rachmat, Direktur Direktorat Budidaya Tanaman Sayuran dan Biofarmaka, banyak faktor yang menyebabkan tingginya harga. Salah satunya faktor alam. Tingginya curah hujan pada akhir 2007 hingga awal 2008 menyebabkan beberapa sentra di Jawa dan Sumatera seperti Aceh Nangroe Darussalam, Jambi, dan Bengkulu, terendam air. Data Direktorat Jenderal Hortikultura, luas penanaman yang dilanda banjir pada 2007 mencapai 745,6 ha.

Secara umum, luas penanaman cabai di beberapa sentra juga menurun. ‘Di Sukabumi luas penanaman cabai berkurang,’ kata Rudy Purwadi, pekebun di sana. Sukabumi salah satu sentra cabai. Begitu juga di Brebes, Jawa Tengah. Luas tanam pada 2007 hanya 3.546 ha dengan produksi 280.615 ton. Bandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai 3.781 ha (330.197 ton).

Secara akumulasi menyusutnya luas areal tanam di beberapa sentra menyebabkan anjloknya produksi cabai nasional. Berdasarkan data statistik produksi hortikultura Departemen Pertanian, produksi cabai besar nasional pada 2007 hanya 641.558 ton. Jumlah itu menurun dibandingkan dengan 2006 yang mencapai 736.019 ton.

Pupuk mahal

Menurut Rudy Purwadi penurunan luas tanam itu antara lain akibat dicabutnya subsidi pupuk seperti KCl dan TSP. KCl yang semula Rp2.500 menjadi Rp6.000/kg; TSP, Rp1.800 menjadi Rp2.700/kg. Akibatnya, biaya produksi melonjak dua kali lipat dari Rp32-juta menjadi Rp64-juta/ha. ‘Hanya pekebun bermodal kuat yang dapat bertahan menanam cabai,’ ujarnya.

Muchjidin menuturkan kondisi itu sejatinya sudah menjadi asam garam para pekebun hortikultura sejak dulu. ‘Mereka memang hampir tidak pernah menikmati pupuk bersubsidi. Pupuk itu diutamakan untuk budidaya tanaman pangan,’ ujarnya. Para pekebun hortikultura biasanya menggunakan pupuk impor yang dijual dengan harga pasar.

Kondisi itu tentu saja sangat merugikan pekebun hortikultura. Apalagi belakangan harga bahan bakar minyak dunia terus merangkak naik. Produsen pupuk salah satu konsumen bahan bakar minyak yang cukup tinggi. Hal itu akan menjadi hantaman keras bagi para pekebun karena dapat memicu kenaikan harga pupuk di pasaran. Tak hanya itu, harga pestisida dan mulsa plastik pun bakal turut terdongkrak. Pengalaman pascakenaikan harga BBM pada akhir 2005, harga mulsa yang semula Rp320.000 naik menjadi Rp360.000/rol setara 20 kg. Untuk luasan 1 ha, pekebun membutuhkan 10 rol senilai Rp3.600.000. Fungisida juga terdongkrak, dari Rp44.000 menjadi Rp49.000 per 0,5 kg.

Ambruknya harga cabai pada 2006 dan 2007 menyebabkan para pekebun beralih ke komoditas lain. Selama 2007, harga rata-rata tertinggi pada September-Oktober hanya Rp10.500/kg. Padahal, harga pada kedua bulan itu biasanya tinggi karena permintaan cabai menjelang Ramadan dan Idul Fitri meroket. Anjloknya harga akibat pasokan yang melimpah. Para pekebun berbondong-bondong menanam cabai karena tergiur harga tinggi pada 2005 yang mencapai Rp17.500/kg.

Naik

Para pekebun juga mengeluhkan merosotnya produktvitas cabai, seperti dialami H Daday, pekebun cabai di Kecamatan Cigalontang, Tasikmalaya. Dari satu tanaman cabai merah besar, kini hanya menghasilkan 1 kg, biasanya mencapai 1,5-2 kg. Cabai keriting yang tadinya menghasilkan 1 kg/tanaman, kini hanya 700-800 g. Penyebabnya, ‘Kesuburan tanah mulai menurun akibat pemakaian pupuk kimia terus-menerus,’ ujarnya. Oleh sebab itu, Daday dan pekebun lainnya menambahkan 2,5 ton pupuk kandang dan 50 kg kapur/ha untuk memperbaiki kondisi tanah.

Ancaman virus kuning juga menjadi momok bagi para pekebun, seperti dialami Marsudi pada 2007. Tiga puluh hektar cabai miliknya luluh-lantak akibat serangan virus gemini. Modal Rp960-juta raib tanpa kembali. Hanya 20 ha yang terselamatkan. Bila sudah begitu, para pekebun biasanya mengurangi luas areal tanam karena enggan menanggung risiko tinggi. Pada musim tanam 2008, Marsudi hanya membudidayakan cabai di lahan 22 hektar: 14 ha cabai keriting dan 8 ha cabai merah besar. Padahal sebelumnya mencapai 50 hektar.

Sementara produksi menurun, permintaan justru meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk. Dengan asumsi tingkat konsumsi rata-rata 0,37 kg/kapita/bulan dan konsumen cabai 80% dari jumlah penduduk yang diperkirakan mencapai 224-juta orang pada 2007, maka konsumsi cabai pada 2007 mencapai 66.304 ton per bulan atau 795.648 ton per tahun. Belum lagi ditambah permintaan dari industri. ‘Industri pengolahan cabai kini mulai melirik cabai lokal. Mereka menyerap hingga 10% dari total produksi nasional,’ ujar Muchjidin. Di sinilah hukum ekonomi bicara: pasokan turun, harga pun naik (Imam Wiguna/Peliput: Ari Chaidir dan Faiz Yajri)

http://juragancabe.multiply.com/journal/item/6

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s