RUMUS BAKU UNTUK BERTANAM CABAI

Satu dua tahun terakhir ini, harga cabai relatif stabil. Tidak pernah naik sampai Rp 20.000,- per kg, tetapi sebaliknya juga tidak pernah turun menjadi tinggal Rp 500,- per kg. Tampaknya para petani “amatiran” yang menanam cabai sekadar untuk iseng sudah banyak yang jera. Sementara para petani cabai profesional sudah mulai bisa mengatur keseimbangan antara suplai dengan demand. Sebab itulah kunci kestabilan harga komoditas apapun. Selama ini, biaya tanam cabai dengan benih impor dan teknologi modern (menggunakan mulsa plastik hitam perak), sekitar Rp 40.000.000,- per hektar. Populasi tanaman antara 16.000 sampai dengan 20.000 tanaman. Hasil tiap tanaman, rata-rata hanyalah 1 kg. Hingga harga pokok cabai per kg, sebenarnya hanya berkisar antara Rp 2.000,- sampai dengan Rp 2.500,- per kg. Jadi sebenarnya, dengan harga jual di tingkat konsumen Rp 5.000,- per kg. pun, petani dan pedagang masih bisa diuntungkan. Sebab marjin antara Rp 2.500,- sampai dengan Rp 3.000,- masih bisa dibagi rata dengan sangat longgar antara petani sendiri, pedagang pengumpun (atau pasar induk) dengan pedagang pengecer.

Harga cabai tertinggi di tingkat konsumen, sebenarnya hanya bisa ditolerir sampai dengan Rp 10.000,- per kg. Hingga kita bisa mengasumsikan sebuah patokan harga terendah di tingkat konsumen Rp 5.000,- per kg. sementara harga tertingginya Rp 10.000,- Harga rata-ratanya (harga tengahnya) adalah Rp 7.500,- Hingga wajar kalai Indofood misalnya, mematok harga dasar cabai Rp 7.000,- per kg. Artinya kalau harga lebih tinggi dari Rp 7.000,- petani bisa menjualnya ke pasar umum, kalau lebih rendah dari Rp 7.000,- Indofood siap untuk menampungnya. Jadi kalau harga cabai melambung sampai Rp 20.000,- per kg. itu merupakan sesuatu yang sangat tidak normal. Artinya permintaan demikian tingginya sementara suplai sangat kurang. Sebaliknya kalau harga cabai jatuh sampai di bawah Rp 1.000,- per kg, berarti permintaan rendah sementara pasokan sangat tinggi. Dalam hal ini, permintaan yang sering disebut sebagai “tinggi” dan “rendah” sebenarnya juga kurang tepat. Sebab tingkat konsumsi cabai masyarakat akan selalu stabil (tetap). Yang sangat berfluktuasi hanyalah pasokannya.

Sentra cabai terbesar di Indonesia ada di Kab. Brebes, Jawa Tengah. Di sini tanaman cabai merupakan “tumpang gilir” bagi komoditas bawang merah. Ketika tanaman bawang merah berumur 2 minggu, bibit cabai ditanam di sela-sela bawang merah tersebut. Ketika bawang merah dipanen dengan cara dicabut, sekaligus berfungsi sebagai penyiangan cabai. Hingga cabai di Brebes sebenarnya merupakan “anak kost” pada bawang merah. Sebab biaya olah tanah pemupukan dan penyiraman pada tahap awal “menumpang” pada bawang merah. Kelebihan bertanam cabai secara tumpanggilir dengan bawang merah adalah adanya faktor keamanan bagi serangan trips. Penyakit yang banyak menyerang cabai adalah virus keriting. Virus ini disebarluaskan oleh hama trips. Biasanya virus dan trips ini paling ganas serangannya pada saat tanaman cabai masih muda. Dengan ditenam di sela-sela bawang merah, hama trips tidak mau mendekat ke pucuk cabai. Sebab aroma bawang putih yang sangat tajam sangat tidak disukai oleh trips. Karenanya para petani cabai di brebes juga tidak perlu mengeluarkan biaya pestisida untuk cabai mereka.

Di Brebes, benih cabai juga diproduksi sendiri oleh petani. Bukan merupakan benih produksi penangkar lokal (misalnya Panah Merah) atau benih impor (misalnya Know You Seed). Hingga biaya benih juga bisa mereka hemat. Selain itu, para petani Brebes juga tidak pernah menggunakan mulsa plastik hitam perak. Karena lahan yang mereka gunakan untuk menanam cabai, sebenarnya merupakan bedengan bagi tanaman bawang merah. Karenanya, biaya produksi cabai merah di Brebes menjadi sangat rendah. Rata-rata biaya per hektarnya per musim tanam hanyalah sekitar Rp 8.500.000,- Sebab biaya oleh tanah dan pemupukan dibebankan pada bawang merah. Hasil per hektar per musim tanam memang sangat rendah, hanya sekitar 0,6 kg. per tanaman. Popolasi per hektar minimal 20.000 tanaman. Hingga biaya produksi per kg. hanyalah sekitar Rp 700,- Angka ini tentu sangat bersaing dibanding dengan Rp 2.000,- sampai dengan Rp 2.500,- yang merupakan biaya produksi cabai hot beauty atau keriting dengan benih eks Taiwan. Karenanya, ketika harga cabai jatuh sampai dengan Rp 900.- atau Rp 800,- per kg. pun, para petani Brebes masih bisa bertahan dengan marjin Rp 100,- sampai dengan Rp 200,- per kg. Mereka baru akan rugi kalau harga jual cabai di tingkat petani lebih rendah dari Rp 700,- per kg.

Sebenarnya, dengan biaya Rp 40.000.000,- per hektar per musim tanam, produktifitas cabai bisa mencapai 2 kg. per tanaman. Beberapa petani cabai profesional, bahkan ada yang bisa mencapai 2,5 kg per tanaman. Dengan populasi 16.000 tanaman per hektar, produktifitas cabai karenanya bisa mencapai 32 sampai dengan 40 ton per musim tanam. Dengan hitungan harga di tingkat petani Rp 5.000,- per kg, maka pendapatan kotor dari agribisnis cabai bisa mencapai antara Rp 160.000.000,- sampai dengan Rp 200.000.000,- per hektar per musim tanam. Atau keuntungan bersihnya antara Rp 120.000.000,- (300%) sampai dengan Rp 160.000.000,- (400%). Hitung-hitungan demikianlah yang sering dipergunakan oleh para pemula (petani amatiran) yang tergoda untuk bertanam cabai. Padahal, meski dengan modal tetap Rp 40.000.000,- per hektar, petani kita hanya akan bisa berproduksi dengan angka rata-rata 1 kg. per tanaman. Hal ini disebabkan bukan hanya oleh faktor teknik budidaya, melainkan juga karena keterbatasan alam. Misalnya intensitas sinar matahari, hujan, suhu dan kelembapan udara serta gangguan hama serta penyakit. Sebab benih-benih cabai tersebut diproduksi terutama untuk kawasan sub tropis.

Dengan patokan produksi cabai Brebes 12 ton per hektar dan cabai mulsa plastik (benih impor) antara 16 sampai 20 ton per hektar, sebenarnya departemen pertanian kita bisa mengendalikan produksi cabai nasional hingga bisa selalu stabil sesuai dengan kebutuhan konsumen. Sebab sentra-sentra agribisnis cabai ini sudah ketahuan lokasi serta luas arealnya.  Hingga yang harus diatur tinggal jadwal tanamnya agar tidak menumpuk di atu musim sementara kosong di musim lainnya. Biasanya jadwal tanam petani tetap mengikuti siklus alam. Pada musim penghujan, petani akan menanam cabai di lahan-lahan kering (ladang). Penanaman akan dilakukan pada bulan-bulan Oktober dan November saat musim hujan tiba. Panen akan terjadi pada bulan-bulan Desember sampai Maret. Penanaman cabai pada musim penghujan ini sangat tinggi resiko gagalnya akibat serangan hama serta penyakit. Terutama penyakit akibat cendawan fusarium dan bakteri pseudomonas. Biaya pestisida akan membengkak sangat tinggi. Kalau kita gunakan green house sederhana (kumbung plastik), maka biayanya juga akan sangat besar. Tetapi harga cabai pada musim-musim demikian biasanya cukup baik. Sebab petani di Brebes yang sawahnya terganang banjir  tidak akan berani menanam cabai.

Pada bulan-bulan Mei sampai dengan Agustus, sawah-sawah banyak yang kering hingga tidak mungkin ditanami padi. Pada saat itulah banyak petani cabai yang memanfaatkannya untuk komoditas ini. Jadwal tanam para petani brebes memang pada bulan-bulan ini. Panen akan terjadi antara bulan Juli sampai dengan Oktober. Akhir Oktober sampai dengan November, sawah-sawah akan kembali diolah untuk ditanami padi. Pada saat itulah tanaman cabai akan dibongkar meskipun buahnya masih hijau. Hingga cabai hijau pada bulan-bulan tersebut akan membanjiri pasar dengan harganya yang sangat murah. Pada bulan-bulan di musim kemarai inilah para petani Brebes akan turun tangan menanam cabai di sela-sela bawang merah. Sebaiknya para petani cabai mulsa plastik tidak usah ikut menanam. Sebab harganya pasti akan kalah dengan cabai brebes. Lebih-lebih pada saat itu lahan kering juga sulit untuk mendapatkan pengairan. Kecuali di kawasan pegunungan yang airnya melimpah. Dengan pengaturan jadwal tanam demikian, sedikit banyak gejolak harga cabai akan bisa diatasi. Meskipun tidak mungkin bisa diatasi 100 %.

Pada saat-saat tertentu, produksi cabai pasti akan melimpah di pasaran. Hal ini terjadi, selain karena faktor luas lahan tanam yang terlalu besar, juga diakibatkan oleh ramahnya iklim dan kecilnya serangan hama serta penyakit. Cabai yang berlebihan ini mestinya bisa diserap oleh industri. Baik berupa cabai kering maupun berupa pasta (bubur) cabai. Kelemahannya, para petani kita belum memiliki tradisi untuk mengeringkan cabai. Padahal, meskipun rumah tangga Indonesia juga masih terbiasa mengkonsumsi cabai segar, namun kalangan industri makanan, terutama mie instant, sudah mempu menyerap bahan baku cabai kering dalam volume besar. Pengeringan cabai dalam kondisi panen raya dan harga sedang jatuh, tentu tidak cukup hanya dengan mengandalkan panas matahari. Sebab luas lantai jemur di sentra-sentra cabai, masih terlalu kecil jika dibanding dengan luas areal tanam. Alternatifnya tentu dengan memperluas lantai jemur atau membangun dryer. Kalau ditengok dari murahnya energi matahari, maka membangun lantai jemur tentu lebih feaseble. Tetapi kalau dilihat dari faktor luas dan nilai lahan yang digunakan serta tingginya upah tenaga kerja di Jawa, maka penggunaan drayer akan lebih murah. (R) *

SUMBER : http://foragri.blogsome.com/rumus-baku-untuk-bertanam-cabai/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s