Menulis Lebih Utama Daripada Beribadah?

saya tak berniat sedikitpun untuk mengakui tulisan ini, krn terus terang saja tulisan ini hanya COPASAN dari tulisan blok sebelah : sumber aslinya : http://abu-farras.blogspot.com/2012/02/menulis-lebih-utama-daripada-beribadah.html

Saya membaca sebuah hadits yang berbunyi, “Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Apakah makna hadits ini? Apakah yang dimaksud “menuntut ilmu” hanya semata-mata membaca dan berguru kepada seseorang yang berilmu? Lalu, saya mendapatkan penjelasannya dari Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali. Beliau berkata, “Menempuh jalan menuntut ilmu memiliki dua makna:Pertama, secara hakikat, yaitu melangkahkan kaki untuk menghadiri majelis ilmu. Kedua, lebih luas, yaitu menempuh berbagai cara yang mengantarkan menuju ilmu seperti menulis, menghafal, mempelajari, mengulangi, memahami dan lain sebagainya.”

Dari penjelasan Imam Ibnu Rajab di atas, dapat dipahami bahwa ternyata menulis merupakan bagian dari menuntut ilmu. Jika demikian, dengan menulis, maka akan bertambah pula wawasan dan pengetahuan kita. Mengapa bisa demikian? Karena dengan menulis, kita merumuskan suatu ide baru yang berasal dari ilmu yang telah kita dapatkan sebelumnya. Semakin banyak menulis, semakin banyak makna yang bisa kita dapatkan. Begitupun seterusnya. Ternyata rajin menulis setiap hari membantu kita menciptakan kejeniusan kita sebagaimana yang terlihat dalam perjalanan hidup tokoh-tokoh besar.

Dalam hadits-hadits berikut ini menyebutkan bahwa menuntut ilmu lebih utama daripada beribadah sunah:

“Keutamaan ilmu pengetahuan itu lebih aku cintai daripada keutamaan ibadah…” (HR. Thabrani)

“Kelebihan orang yang berilmu atas orang yang beribadah ialah bagaikan kelebihan bulan purnama atas seluruh bintang gemintang.” (HR. An-Nu’aim)

“Kelebihan orang yang berilmu atas orang yang beribadah ialah bagaikan kelebihan diriku atas orang yang paling rendah di antara kalian.” (HR. Tirmidzi)

Bila menulis termasuk ke dalam bagian menuntut ilmu, maka menurut saya, dari keterangan hadits-hadits di atas, menulis hal-hal yang bermanfaat lebih utama daripada ibadah sunah.

Oleh karena pentingnya menulis ini, maka akan kita temukan sejarah berikut ini:

Dalam kitab Fadhail Amal karya Syaikh Maulana Muhammad Al Kandhalawi, pada bab Hikayat Para Sahabat, dengan sub bab: Semangat di dalam mencari ilmu pengetahuan. Kita akan memperoleh gambaran yang jelas dan terang bahwa para ulama-ulama besar generasi awal senang dengan kegiatan membaca dan menulis. Sebagai contoh kita dapat melihatnya sebagai berikut: Imam Ibnul Jauzy, seorang ulama terkemuka, pernah berkata di hadapan jamaahnya: “Aku telah menulis 2000 jilid kitab dengan jari-jariku ini.” Yahya bin Mu’in, seorang ahli hadits terkemuka, pernah berkata: “Saya telah menulis 1.000.000 hadits dengan tanganku sendiri.”

Ibnu Jarir Ath-Thabari, seorang ahli sejarah dan ahli tafsir terkemuka, membiasakan diri selama 40 tahun untuk menulis 40 lembar setiap hari. Setelah kematiannya, murid-muridnya menghitung apa yang ditulisnya setiap hari. Ternyata sejak beliau berusia baligh sampai meninggalnya, terhitung kurang lebih 14 lembar yang beliau tulis setiap hari.

Kitabnya mengenai sejarah manusia sangat terkenal dan dijadikan rujukan hingga berabad-abad lamanya. Ketika ia menunjukkan keinginannya untuk menulis kitab tersebut, ia bertanya kepada orang-orang: “Kalian tentu akan gembira dengan kitab mengenai sejarah seluruh alam ini.”

Orang itu bertanya: “Berapa tebal kitab itu?” Ia berkata: “Sekitar 30.000 lembar.” Orang-orang itu berkata: “Umur kita akan habis sebelum bisa menyelesaikannya.” Ia berkata: “Innalillahi, semangat manusia telah menurun.” Setelah itu ia meringkasnya dan menulisnya dalam 3.000 lembar saja.

As-Sam’ani menceritakan bahwa Imam al-Baihaqi pernah tertimpa penyakit di tangannya, sehingga jari-jemarinya dipotong semua, hanya tinggal pergelangan tangan saja. Sekalipun demikian, beliau tidak berhenti dari menulis, beliau mengambil pena dengan pergelangan tangannya dan meletakkan kertas di tanah seraya memeganginya dengan kakinya, lalu menulis dengan tulisan yang indah dan jelas. Demikianlah hari-harinya, sehingga setiap hari dia dapat menulis dengan tangannya kurang lebih sepuluh lembar. “Sungguh, ini adalah pemandangan sangat menakjubkan yang pernah saya lihat darinya,” kata as-Sam’ani. (at-Tahbir fil Mu’jam Kabir1/223)

Termasuk semangat yang menakjubkan pula adalah semangat Imam Ibnu Aqil yang telah menulis sebuah karya terbesar di dunia yaitu al-Funun. Tahukah Anda berapa jilid kitab tersebut? Sebagian mengatakan sebanyak 800 jilid dan ada yang mengatakan 400 jilid. Imam adz-Dzahabi berkata: “Belum pernah ada di dunia ini kitab yang lebih besar darinya. Seseorang pernah menceritakan kepadaku bahwa dia pernah mendapati juz yang empat ratus lebih dari kitab tersebut.” (Tarikh Islam 4/29)

Sekalipun demikian besarnya kitab ini, tetapi sayangnya kitab ini termasuk perbendaharan umat Islam yang hilang, belum diketahui sampai sekarang kecuali hanya satu jilid saja yang ditemukan di perpustakaan Paris dan dicetak dalam dua jilid pada tahun 1970-1971. (Muqoddimah Kamil Muhammad Khorroth terhadap Zahrul Ghushun min Kitabil Funun hlm. 6)

Imam Bukhari yang digelari sebagai “Jabal Hifzh” (hafalannya seperti gunung), beliau bangun berkali-kali dalam satu malam untuk mencatat faedah. Berkata al-Firabri: “Pada suatu malam, saya pernah bersama Muhammad bin Ismail (Bukhari) di rumahnya, saya menghitung dia bangun dan menyalakan lampu untuk mengingat ilmu dan mencatatnya sebanyak delapan belas kali dalam satu malam”. (Siyar A’lam Nubala’ 12/404)

Imam Syafi’i (204 H) yang namanya tak asing lagi bagi kita Kawannya al-Humaidi menceritakan bahwa dirinya tatkala di Mesir pernah keluar pada suatu malam, ternyata lampu rumah Syafi’I masih nyala. Tatkala dia naik ternyata dia mendapati kertas dan alat tulis. Dia berkata: Apa semua ini wahai Abu Abdillah (Syafi’i)?! Beliau menjawab: Saya teringat tentang makna suatu hadits dan saya khawatir akan hilang dariku, maka sayapun segara menyalakan lampu dan menulisnya”. (Adab Syafi’i wa Manaqibuhu Ibnu Abi Hatim hal. 44-45)

Abul Qashim bin Ward at-Tamimi (540 H). Diceritakan oleh Ibnu Abbar al-Hafizh bahwa beliau tidak mendapatkan sebuah kitabpun kecuali dia menelaah bagian atas dan bawahnya, kalau beliau menjumpai sebuah faedah padanya maka beliau salin di kertas miliknya sehingga terkumpul banyak sekali. (Mu’jam Ashhabi ash-Shadafhi hal. 25)

Az-Zarkasyi (794 H). Diceritakan oleh Ibnu Hajar bahwa beliau sering sekali pergi ke pasar buku, kalau dia datang ke sana dia menelaah di toko buku sepanjang siang, dia menulis masalah-masalah yang menarik di sebuah kertas, kemudian apabila dia pulang ke rumah dia salin ke kitab-kitab karyanya. (Ad-Durar Al-Kaminah 3/397-398)

Abu Ishaq asy-Syairazi telah menulis 100 jilid buku. Ibnu Jarir telah menulis 100.000 halaman.

Ibnu Taimiyah menyelesaikan setiap buku dalam waktu satu minggu. Beliau pernah menulis satu buku penuh dalam satu kali duduk. Dan bukunya telah dijadikan referensi oleh lebih dari 1000 penulis.

Imam Sibawaih menulis buku yang paling besar dalam bidang ilmu nahwu pada usia 30 tahun. Imam Nawawi meninggal pada umur 40 tahun dan telah meninggalkan warisan yang sangat berharga. Ibnu Hajar menulis Fathul Bari dan muqadimah-nya pada usia 30 tahun. Kitab al-Gharibkarya Abu Ubaid ditulis pada usia 40 tahun.

Ibnu al-Jauzy telah menulis 1000 judul buku dan satu bukunya ada yang mencapai 10 jilid. Kayu bekas penanya bisa dipakai untuk memanaskan air yang dipakai untuk memandikan jasadnya ketika meninggal.

Ibnu Khaldun mengasingkan diri dalam sebuah benteng. Kemudian beliau menulis sejarahnya dan diterbitkan hingga menjadi jawaban bagi semua orang yang bertanya.

Ibnu Asakir menulis sejarah Damaskus dalam waktu 60 tahun. Dia tidak melewatkan satu pun orang alim, sastrawan, penyair, orang yang datang dan pergi dari Damaskus kecuali beliau sebutkan dalam bukunya.As-Sarkasi dipenjara dan mampu menulis kitab al-Mabsuth dalam 30 jilid. Aq’ad bin al-Atsir juga pernah dipenjara dan mampu menulis Jamiul Ushul wan Nihayahsebanyak 30 jilid. Dan Ibnu Taimiyah dapat mengarang 30 jilid kitab Majmu Fatawa di dalam penjara. (Dari buku Kunci Sukses karya Dr. Aidh al-Qarni)

Meskipun sangat produktif menulis, ternyata mereka juga ahli ibadah yang tidak tertandingi. Mereka rajin mengerjakan shalat sunah, membaca Al-Qur’an, berdoa, dan berdzikir. Ilmu yang mereka peroleh dan tulisan yang mereka buat, membuat mereka lebih baik lagi dari hari ke hari. Mereka semakin yakin ketika beribadah karena ilmu telah membimbing mereka dan tulisan-tulisan mereka mengingatkan mereka. Akhirnya antara ibadah dan apa yang mereka tuliskan seiring sejalan membentuk harmonisasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s